Friday, December 16, 2011

My Story


           Sekarang umurku 17 tahun, tapi entah bagaimana aku harus jadi asisten seorang dektektif swasta. Menurut beberapa orang, pekerjaanku ini keren, tapi kalian tahu? Pekerjaan ini sangat melelahkan! Aku harus kerja di malam hari dan sekolah di pagi harinya, selama aku pergi aku harus mengawasi target kami. Statusku memang asisten, tapi tidak cuma mencari info mengenai target kami, aku juga biasa melukai orang-orang yang menggangu pekerjaanku.
                Pekerjaanku ini memang melelahkan, namun gaji yang kudapat cukup untuk membiayai kehidupanku, aku bisa membeli sebuah rumah di pinggiran kota yang jauh dari keramaian dan “toko ikan”, aku juga bisa membeli sebuah motor, namun sekarang motorku rusak.
Aku tiba di rumah sepiku. Rumah yang tidak terlalu luas, dengan dua kamar, sebuah dapur kecil, juga ruang tengah.
                Aku berjalan ke arah mesin penjawab telpon, membuka pesan-pesan untukku. Ada tugas lagi, kali ini pembunuhan.
                Menurut info yang kudapat pembunuhan ini terjadi di sebuah sekolah menengah yang cukup terkenal. Semua korbannya ada 15, semuanya perempuan, dan mereka memiliki bekas luka di tempat yang sama. Luka sayatan di dahi, leher, bibir bawah, sekitar mata, juga kulit tangan dan kaki yang sudah terlepas dari tempat seharusnya. Berapa lama pembunuh itu melakukan ini? Butuh waktu yang tidak sebentar untuk menguliti seseorang, dan semua mayat ditemukan di atap sekolah. Si pembunuh melakukan aksinya di sekolah? Atau membawa mayat mayat itu ke sekolah?

***
“Sudah menemukan cara untuk kasus itu?” tanya atasanku di kantor, atasanku seorang perempuan cantik tapi galak dan sadis, lebih cocok untuk jadi seorang pembunuh bayaran....
“Belum nuna (pangilan kakak).  Ada usul?” tanyaku
“Kau bertanya pendapatku?”
“Usul, bukan pendapat....”
“ck... baiklah, usul. Jadi guru aja kesekolah itu.”
“guru?! Aku aja masih SMA!”
“terus kenapa? Kau bisa jadi guru kelas 10...” jawabnya santai
“aku hampir ga naik di kelas 10... lupa?”  balasku kesal
“ups... maaf... aku lupa, gimana dong? Jadi murid?”
“pindah sekolah lagi? Kenapa ga nuna aja?”
“ga mau, kau saja, aku ga suka kasus murahan...” jawabnya sambil berjalan pergi. Huh... dia menyebalkan! Aku sudah sering pindah sekolah... kasus murahan? Ini bukan kasus murahan! Bayarannya lumayan, US$ 10.000.000
                Aku berjalan kearah parkiran, di otakku hanya ada kasus pembunuhan itu, entah kenapa aku ingin menyelesaikan kasus itu. Bayarannya lumayan, dan sepertinya itu kasus mudah. Tapi bagaimana menyelesaikannya? Jadi murid seperti usul nuna tadi? Atau jadi guru? Penjaga sekolah? Kalau aku jadi guru seperinya tidak bebas keluar masuk kelas, penjaga sekolah? Gak keren... murid? Baiklah, hanya untuk beberapa minggu... pasti bisa.

***
                Setelah hari itu kuputuskan untuk jadi murid disekolah ini, sepertinya aku menyesal, aku sudah 1 bulan disini, namun aku sama sekali belum dapat info penting, belum ada yang mencurigakan.
“Baca apa?” ke perempuan disebelahku yang terkenal dingin, cuek juga phobia darah.
“ga lihat?” tanyanya, aku tahu dia menutupi buku yang dia baca dengan buku fisika.
“fisika? Bukan itu kan...”
“kau pintar juga. Aku sedang baca komik.” Bisiknya, pintar juga? Hey... aku ini seorang asisten dektektif...
“komik apa?” tanyaku dengan nada berbisik, karena guru sudah datang, aku mengeluarkan buku pelajaranku.
“pembunuhan oleh arwah penasaran.” Jawabnya santai. Aku merasa dia mengejekku.
“cih! Cerita murahan!” balasku sedikit berteriak, guru melihat kearah kami dan menyuruh kami keluar dari kelas. Perempuan ini terlihat santai keluar dari kelas, dia masih membawa bukunya, dia juga sama sekali tidak terlihat marah, aneh....
                Ahh... aku lupa, aku belum memberitahu namaku... namaku Kyuza Alviss, tentu saja itu nama samaran, dan perempuan yang diusir dari kelas bersamaku ini bernama Arisa.
“Hei... Arisa, mau kemana kau?” tanyaku sambil mengikutinya, dia hanya berjalan lurus tanpa meresponku. Aku makin penasaran, selama sebulan aku mengenalnya disini dia tidak pernah mengacuhkanku. Ada apa dengannya? Dia sakit? Kenapa aku tidak bisa mendengar suara hatinya? Telingaku bermasalah lagi?
                Arisa berhenti di depan pintu ruang music “kenapa?” tanyanya, aku semakin bingung.
“kenapa kau lama sekali menemukan pembunuhnya?” lanjutnya
“pembunuh apa? Kau kenapa?” jawabkku, apa dia tahu maksudku masuk sekolah ini? Bagaimana dia bisa tahu?
“kau Alviss kan, asisten dektektif swasta yang akan menyelesaikan kasus pembunuhan disekoalah ini. Kenapa kau belum juga menemukan pembunuhnya? Kau mau melihatku terbunuh dulu?” tanyanya dengan suara bergetar
“darimana kau tahu? Siapa kau? Kau pelakunya?” aku berusaha menyembunyikan rasa kagetku, berusaha membuat suaraku terdegar santai.
“aku? Pelakunya? Kau bercanda?” suaranya makin bergetar, keringat mengalir di dahi dan lehernya, tangannya gemetar
“bukan kau? Jadi siapa?” aku masih mengusahakan suaraku terdengar biasa saja.
“kenapa bertanya padaku?! Itu tugasmu! Dektektif bodoh!” dia menarikku masuk ruang music, kekuatan tarikannya mengaggetkan. Tadi dia terlihat seperti akan menangis, dan sekarang dia terlihat seperti akan membunuhku. Tunggu, membunuh??!!
“KAU??!!” bentakku kaget, aku menepis tangannya, sepertinya aku terlalu kasar, perempuan ini mundur beberapa langkah. Ia mengeluarkan pisau lipat dari saku seragamnya.
“dektektif bodoh! Cepat tolong aku! Dia akan membunuhku!” teriaknya
“kau kenapa sih?! Buang pisau itu!” bentakku
“buang pisau ini? Kurasa tidak.” Dia maju mendekatiku, akal sehatku belum bisa kugunakan, aku terlalu bingung mencerna semua ini.
“buang Arisa!!” aku membentaknya sekali lagi. Sia sia, ia sudah melukai pipiku. Lukanya bukan luka serius, namun saat mengingat siapa yang melukaiku rasanya jadi sangat perih, aku mencari senjataku di saku celanaku, nihil... senjataku tak ada. Aku mendorong bahunya hingga ia jatuh terduduk di dekat drum, ia menatapku miris, aku semakin tidak tega melihatnya, kenapa dia?
                Selama beberapa menit kami hanya saling tatap, perlahan kulihat setetes air mengalir melalui matanya, turun kepipinya, lalu bertambah satu tetes lagi, setetes demi setetes air matanya mengalir turun.
“kau baik baik saja?” aku mendekatinya, namun dia malah mundur menjauh
“jangan takut...” aku mencoba menenangkannya
“siapa yang takut?!” bentaknya dan berdiri, ia menusukkan pisaunya beberapa kali ke bagian belakang leherku, lalu ke pipiku hingga tembus ke mulutku, setelah itu dahi dan berakhir di pipinya. Aku bisa merasakan daarah mengalir di sekitar leherku, ia hanya memperhatikan darah yang keluar dari luka lukaku tanpa melepas pisau dari pipinya. Perlahan aku mulai merasa kehilangan kesadaranku.
Bodohnya aku, kenapa aku baru menyadari Arisa berkepribadaian ganda. Aku mendengar ia berkata “akulah pelaku dari kasus pembunuhan itu...” di tengah isakannya yang semakin lama semakin jelas, entah isakan menyesal atau kesakitan. Lalu ia duduk terkadang terisak dan kadang tawanya yang terdengar, memperhatikan ku yang makin lama makin lemah sampai akhirnya semua gelap...

[C News]